Demensia: Pengertian, Penyebab dan Gejalanya

DemensiaSehat di Kala Tua Tanpa Demensia! Demensia? Atau bahasa gaulnya adalah pikun. Siapa yang mau pikun? Lupa dengan hal-hal yang baru saja atau sudah dilakukan. Sebagai contoh sudah mandi pada pukul tiga sore, ternyata jam 5 sore sudah tidak ingat lagi kalau sudah mandi akhirnya mandi lagi. Repot kan? Itulah demensia. Demensia adalah suatu penurunan kemampuan fungsional yang disebabkan oleh adanya kelainan pada otak. Yang mempengaruhi kondisi seseorang dalam berpikir, mengingat, berperilaku atau mempengaruhi emosi seseorang. Sedangkan pikun sendiri sebenarnya merupakan gejala dari demensia.

Demensia bisa dialami oleh siapa saja. Walau pun banyak menyerang pada usia tua, namun bisa saja menyerang pada usia muda yang disebaban karena adanya cedera yang berat, adanya penyakit dalam otak maupun karena pengaruh gas-gas monosida. Sedangkan penyebab yang paling sering menyebabkan terjadinya demensia adalah adanya penyakit Alzheimer. Gejala yang harus diwaspadai dari demensia antara lain:

  • Mengalami kesulitan untuk fokus
  • Kesulitan untuk fokus terhadap sesuatu seperti lupa bagaimana caranya memasak. Lupa bagaimana caranya menggunakan telepun atau yang lain.
  • Kesulitan dan mengalami gangguan pada daya ingat
  • Daya ingat yang menurun sehingga mudah lupa terhadap sesuatu.
  • Mengalami gangguan komunikasi
  • Kesulitan dalam berbicara atau susah untuk mengambil kata yang tepat ketika berkomunikasi.
  • Indikasi perubahan kepribadian dan perilaku
  • Perubahan perilaku dan kepribadian yang menyangkut emosi seseorang seperti mudah bingung, curiga, depresi, mudah kecewa, ketakutan atau putus asa bisa menjadi gejala dari demensia.
  • Kesulitan dalam memahami sesuatu seperti membaca, menaruh barang, membedakan warna, mengenali wajah

Demensia 2

Demensia terjadi secara perlahan dan lama kelamaan bisa menjadi parah. Oleh karena itu perlu adanya upaya agar para penderita yang sudah mengalaminya tidak semakin parah. Peran orang-orang di sekeliling penderita juga sangat penting. Dukungan, sikap, dan motivasi dari keluarga juga akan mempertahankan kemampuan otak penderita. Memarahi atau mencelanya hanya akan memperburuk keadaan. Suasana yang kondusif dan nyaman sangat dibutuhkan. Menciptakan lingkungan yang sehat dengan cara menghindarkan diri dari hal-hal yang menyebabkannya depresi atau tingkat emosinya menjadi labil.

One Response

  1. adit